![]() |
| Pemerintah Desa Luhu Telaga, Bidang UEM Gorontalo Utara dan TAPM di Lokasi Budidaya Melon Premium |
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung inovasi usaha ketahanan pangan yang dikembangkan BUM Desa Luhu melalui budidaya melon premium dengan sistem hidroponik. Sebanyak 1.500 tanaman melon saat ini tengah dipersiapkan untuk memasuki masa panen raya dalam beberapa pekan ke depan.
Rombongan diterima oleh Pemerintah Desa Luhu bersama Direktur BUM Desa. Dalam pertemuan tersebut, dibahas perkembangan usaha, peluang pasar, serta harapan pemerintah desa terhadap kontribusi BUM Desa dalam memperkuat perekonomian desa.
Kepala Desa Luhu, Sartin Rakaa, mengungkapkan bahwa perjalanan BUM Desa di desanya telah melalui berbagai dinamika, termasuk pengalaman kegagalan dalam mengembangkan sejumlah usaha sebelumnya. Namun, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran untuk lebih selektif dalam menentukan jenis usaha yang memiliki prospek dan peluang pasar yang jelas.
Melalui budidaya melon premium ini, Pemerintah Desa Luhu menaruh harapan besar agar BUM Desa dapat berkembang lebih baik dan memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes). Terlebih, hasil panen yang akan datang disebut telah memiliki offtaker atau calon pembeli, sehingga pemasaran menjadi salah satu aspek yang dipersiapkan sejak awal.
Optimisme juga disampaikan Direktur BUM Desa Luhu. Dengan penuh keyakinan, ia bahkan menyebut optimisme mencapai “1.500 persen”. Menurutnya, salah satu faktor pendukung usaha ini adalah adanya pendampingan dari tenaga ahli dalam proses budidaya melon.
Direktur BUM Desa menjelaskan, harga jual melon diperkirakan mencapai Rp27.000 per kilogram. Setiap tanaman berpotensi menghasilkan tiga hingga empat buah, dengan berat masing-masing buah dapat mencapai dua kilogram atau lebih, bergantung pada kondisi dan keberhasilan budidaya.
Dengan jumlah awal 1.500 tanaman, usaha ini memiliki potensi produksi yang cukup menjanjikan. Sebagai gambaran, apabila 85 persen tanaman berhasil berproduksi, dengan asumsi setiap tanaman menghasilkan tiga buah berbobot rata-rata dua kilogram, potensi produksi dapat mencapai sekitar 7,65 ton. Pada harga Rp27.000 per kilogram, nilai penjualan kotor secara ilustratif mencapai Rp206,55 juta. Nilai tersebut masih berupa proyeksi dan belum memperhitungkan biaya produksi maupun hasil panen aktual.
Bagi TAPM Gorontalo Utara dan Bidang UEM Dinas PMD Gorut, pengalaman Desa Luhu menjadi pembelajaran bahwa pengembangan BUM Desa tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan modal. Diperlukan pemilihan usaha yang tepat, pendampingan teknis, pengelolaan yang profesional, serta kepastian pasar agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pengalaman Desa Luhu diharapkan dapat menjadi referensi bagi BUM Desa di Gorontalo Utara, khususnya dalam mengembangkan usaha ketahanan pangan yang produktif dan berorientasi pasar. Sebagai langkah awal, TAPM Gorut bersama Bidang UEM dan PSM akan menjajaki koordinasi dengan desa-desa yang memiliki potensi untuk mengembangkan usaha serupa.
Tentunya, replikasi usaha akan mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia, kondisi lahan, ketersediaan air, kebutuhan modal, pendampingan ahli, dan peluang pemasaran di masing-masing desa.
Studi tiru ini menegaskan pentingnya belajar dari praktik baik antardesa. Dengan inovasi, kolaborasi, dan perencanaan usaha yang matang, BUM Dess diharapkan mampu tumbuh menjadi penggerak ekonomi lokal, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Arfan Entengo — Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Gorontalo Utara

Posting Komentar untuk "Studi Tiru TAPM Gorut dan Bidang UEM Dinas PMD Gorut ke Desa Luhu, Pelajari Potensi Budidaya Melon Premium"