zmedia

Himpitan Biaya Pakan dan Serbuan Telur Luar, 25 BUMDes di Gorontalo Utara Terancam Gulung Tikar

 

Foto. Usaha Peternakan Ayam Petelur yang dikelola oleh BUM Desa

EKONOMI & BISNIS

KWANDANG – Sektor peternakan ayam petelur yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Gorontalo Utara kini berada dalam situasi kritis. Meski menunjukkan tren pertumbuhan investasi desa, para pengelola BUM Desa mulai menyuarakan kekhawatiran atas ancaman kerugian massal akibat ketidakseimbangan pasar dan tingginya biaya produksi.

Data Populasi dan Produktivitas

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan pengelola BUM Desa di lapangan serta dikonfirmasi oleh praktisi peternakan ayam petelur sukses asal Kecamatan Atinggola, Gias Lasahido, tercatat ada 25 desa di Gorontalo Utara yang saat ini aktif menjalankan usaha peternakan.

Secara akumulatif, populasi ayam petelur di bawah naungan BUM Desa tersebut mencapai hampir 10.000 ekor, dengan rata-rata produksi harian menyentuh angka 1.500 butir telur. Namun, angka produktivitas yang menjanjikan ini justru dibayangi oleh krisis finansial yang nyata.

Fenomena "Gunting" Harga

Para peternak saat ini terjepit dalam fenomena ekonomi yang merugikan. Di satu sisi, harga pakan terus melonjak tajam yang secara otomatis menaikkan biaya operasional produksi secara signifikan. Di sisi lain, harga jual telur di tingkat lokal justru mengalami tren penurunan yang drastis.

Kondisi ini diperparah dengan masuknya pasokan telur dari luar daerah secara masif ke wilayah Gorontalo Utara. Telur-telur tersebut masuk dengan harga yang jauh lebih murah, sehingga menggerus daya saing produk lokal hasil jerih payah BUM Desa

"Tanpa intervensi yang nyata, ancaman kerugian sulit dihindari. Dibutuhkan sinergi dan perhatian bersama agar aset desa ini tidak hancur," ungkap laporan kolektif dari para pelaku BUM Desa

Mendorong Peran Pemerintah sebagai Fasilitator

Situasi ini memicu desakan agar Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara segera turun tangan. Sebagai fasilitator, pemerintah daerah diharapkan dapat melahirkan kebijakan protektif untuk melindungi keberlangsungan ekonomi desa.


Beberapa poin krusial yang diharapkan oleh para peternak lokal meliputi:

Regulasi Pasar: Pengaturan arus masuk telur dari luar daerah agar tidak merusak stabilitas harga lokal.

Stabilitas Harga Pakan: Upaya mediasi atau subsidi pakan untuk menekan tingginya biaya produksi.

Prioritas Penyerapan: Mendorong pasar lokal dan instansi pemerintah untuk memprioritaskan konsumsi telur hasil produksi BUM Desa Gorontalo Utara.


Jika langkah perlindungan ini tidak segera diambil, dikhawatirkan semangat penguatan ekonomi desa melalui BUM Desa akan layu sebelum berkembang, mengingat besarnya modal dan harapan masyarakat desa yang tertanam dalam usaha peternakan ini.

Posting Komentar untuk "Himpitan Biaya Pakan dan Serbuan Telur Luar, 25 BUMDes di Gorontalo Utara Terancam Gulung Tikar"