zmedia

Menjemput Panggilan Jiwa: Kisah Ibu Nuning Wolinelo, Dari Pemberdayaan Desa Kembali ke Pangkuan Dunia Pendidikan


Nuning Wolinelo, S.Pd, Gr.
Tenaga Pendidik
Bagi sebagian orang, meninggalkan zona nyaman yang telah digeluti selama belasan tahun adalah perkara sulit. Namun, bagi Ibu Nuning Wolinelo, S.Pd., Gr., langkah tersebut merupakan bentuk kepatuhan pada panggilan jiwa dan sebuah pilihan hidup yang matang. Setelah mendedikasikan diri selama 10 tahun 4 bulan sebagai Tenaga Pendamping Profesional (TPP)—mulai dari Pendamping Lokal Desa (PLD) hingga menjadi Pendamping Desa (PD) di Kecamatan Anggrek—Ibu Nuning kini resmi beralih tugas menjadi seorang tenaga pendidik di TK Melati, Kecamatan Tomilito.

Perjalanan transisi ini menjadi sebuah kisah inspiratif tentang pengabdian, manajemen waktu, dan loyalitas tanpa batas bagi kemajuan daerah.

Regulasi, Berkah Sertifikasi, dan Prioritas Keluarga

Pilihan Ibu Nuning untuk "hijrah" profesi pada tahun 2025 bukan tanpa alasan. Momentum ini bermula saat beliau terpilih sebagai peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan berhasil lulus hingga meraih sertifikasi guru di akhir tahun. Berdasarkan regulasi yang berlaku, seorang guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi tidak diperkenankan untuk menerima honorarium lain yang bersumber dari keuangan negara, termasuk sebagai pendamping desa (double job).

Namun di balik tuntutan regulasi tersebut, Ibu Nuning menemukan berkah tersendiri, yaitu waktu untuk keluarga.

Dunia pemberdayaan itu menuntut full waktu, Pak. Turun pagi, pulang malam, bahkan di hari libur. Sementara di dunia pendidikan anak usia dini, jam dua siang saya sudah bisa di rumah. Waktu untuk keluarga, terutama untuk menjaga orang tua yang sudah lansia, kini jauh lebih luas, ungkap Ibu Nuning dengan nada syukur.

Kembali ke Rumah Lama:

Dunia PAUD Bukan Hal Baru Bagi Saya"

Meski lingkungan baru yang dihadapinya kini dipenuhi gelak tawa anak-anak usia dini, Ibu Nuning mengaku tidak mengalami tantangan atau kesulitan adaptasi yang berarti. Baginya, dunia pendidikan adalah rumah lama tempat namanya dibesarkan. Sebelum bergabung dalam program pemberdayaan masyarakat pada tahun 2014, beliau telah aktif di dunia PAUD sejak tahun 2009.

Ibu Nuning bahkan menjadi salah satu tokoh kunci yang berperan aktif menyukseskan program gerakan nasional One Village, One PAUD (Satu Desa, Satu PAUD) di wilayah Kecamatan Anggrek pada masa itu. Maka tak heran, kembali menjadi guru TK laksana mengulang memori indah yang sempat tertunda.

Pesan Mendalam untuk Rekan TPP: "Jangan Tunggu Undangan, Jadilah Proaktif!

Foto : Nuning bersama rekan TPP

Di akhir sesi wawancara, Ibu Nuning menyampaikan pesan emosional dan penuh motivasi bagi mantan rekan sejawatnya di dunia pendampingan desa seperti Pak Agong, Ibu Sulfa, Pak Titon, dan rekan-rekan lainnya. Mengingat besarnya peran pendamping dalam kemajuan desa, beliau menekankan pentingnya sikap proaktif dan inisiatif.

Ibu Nuning berpesan agar para pendamping zaman sekarang tidak pasif dan hanya bertindak jika ada instruksi atau undangan formal dari desa.

Pesan saya ke teman-teman, jangan tunggu undangan! Minimal tanyakan, agenda atau kegiatan apa yang sedang berjalan di desa kalian. Selama sepuluh tahun di pemberdayaan, saya selalu berusaha hadir di setiap musyawarah desa walau dikabari mendadak. Tolong, jangan kecewakan perangkat desa dan kepala desa, tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa jika kehadiran pendamping sudah mampu mewarnai dan dihargai oleh pemerintah desa, maka fungsi pendampingan akan berjalan secara optimal. Sebaliknya, jika pendamping pasif, keberadaannya di desa tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

Kisah Ibu Nuning Wolinelo adalah bukti nyata bahwa di mana pun kaki berpijak baik saat mendampingi masyarakat desa maupun saat menuntun tumbuh kembang anak usia dini esensi dari seorang abdi masyarakat tetap sama, memberikan kemanfaatan terbesar bagi lingkungan sekitar melalui dedikasi yang tulus. Selamat bertugas di tempat yang baru, Ibu Nuning! (TPP/red)

Posting Komentar untuk "Menjemput Panggilan Jiwa: Kisah Ibu Nuning Wolinelo, Dari Pemberdayaan Desa Kembali ke Pangkuan Dunia Pendidikan"